Lets take a look inside..

Menengok kembali ke dalam diri kita haruslah sering kita lakukan. Mengingat siapa diri kita, untuk apa Alloh menciptakan kita dan akan kemana kita nanti, merupakan pertanyaan simple namun perlu perenungan panjang untuk menjawabnya.
Kini,lihat lah ke dalam hatimu, mungkin selama ini bukan kedua matamu yang buta, melainkan hatimu...

Selasa, 22 November 2011

Menempuh Hidup Baru

“Mbak, setiap hari masak?” tanyanya di sebuah kesempatan.
            “Kadang-kadang saja, kalau sempat atau libur baru masak.” Balasku sambil tersenyum.
            “Saya mau berhenti kerja saja Mbak, terus terang saya belum bisa mengatur waktu. Masih suka kerepotan. Belum terbiasa mungkin.” Tambahnya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Sesampai di rumah kusampaikan obrolan tadi pada suamiku. Dia pun hanya tersenyum  dan berkata, “Mungkin bagi sebagaian adat, ada yang melarang para suami untuk membantu pekerjaan istrinya di rumah. Bahkan menganggap itu adalah sebuah aib, ketika suami turun tangan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.”
            “Oh, begitu ya?” aku pun terdiam..
            “Tapi bukankah itu akan menyusahkan bagi sang istri? Apalagi saat punya anak nanti. Seharusnya saat menikah, adat dan kebiasaan jelek dari orang tua kita jangan dibawa ke dalam rumah tangga kita. Jadi kita ciptakan sendiri rumah tangga sesuai keinginan kita.” Tambahku serius.
            “Idealnya begitu. Tapi kenyataannya tak semua bisa berjalan begitu.”
***
            Dalam sebuah seminar tentang pernikahan yang bertema “Membangun Keluarga SAMARADA (Sakinah, Mawaddah, Warohmah dan Dakwah) yang  kuikuti, pembicaranya  mengatakan, bahwa saat kita akan menempuh hidup baru bersama pasangan kita hendaknya kita berazzam dengan kuat bahwa rumah tangga kita kelak harus benar-benar baru. Dunia yang kita ciptakan di dalamnya pun harus baru. Peraturan, kesepakatan dan lain halnya pun haruslah baru. Karena saat semua orang menyalami kita dan mengatakan “selamat menempuh hidup baru” maka saat itu pula kita harus menyadari bahwa kita akan memulai segala sesuatu yang baru bersama pasangan hidup kita yang juga baru. Aku sedikit tersentil dengan pemaparan beliau.
Tanpa disadari memang terkadang kita suka membandingkan rumah tangga kita dengan rumah tangga orangtua kita, membandingkan sifat, sikap, kebiasaan yang diwariskan dari orangtua kita dan tanpa sadar diterapkan dalam rumah tangga baru milik kita. “Padahal itu adalah awal yang tidak baik.” Papar beliau menambahkan.
Sebaiknya rumah tangga yang kita bina merupakan rumah tangga yang dibangun atas dasar pemikiran dua insan yang sama-sama membawa harapan baru, nuansa baru, kualitas baru, sifat, akhlak dan hal lainnya yang baru. Tak perlu ada bayang-bayang orangtua yang ikut mewarnai rumah tangga kita. Mungkin jika kita ingin mengambil teladan dari orangtua adalah tentang sikap baik, kedisiplinan mereka dan hal positif lainnya. Tentu kita bisa memilah dan memilihnya bukan?
Jika aku membandingkan, Ibuku memang tak akan pernah membiarkan Ayah turun tangan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi kini, aku hidup dengan rumah tanggaku yang baru. Membuat kesepakatan dan membangun kerjasama antara aku dan suamiku. Bukan berarti aku tak memuliakannya, tapi bekerjasama dalam segala hal serta kompak untuk urusan rumah tangga pun adalah hal yang menyenangkan buat kami. Kami bisa mengerjakan semua hal bersama, bahu membahu dan nilai positif lainnya kami jadi makin romantis.
Jadi teringat kalimat yang pernah dilontarkan suamiku pertama kali saat aku memintanya membantuku,”bukankah Rasulullah juga selalu membantu para istrinya?”.
Wallohu ‘alam bishowab.